
Setiap kali lomba Pramuka diadakan, entah itu LT, Lomba Yel, Pioneering, Lomba Baris Berbaris Tongkat, hingga Pentas Seni, ada satu hal yang sering muncul di akhir kegiatan:
“Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.”
Kalimat ini terdengar gagah, penuh wibawa, seolah tidak bisa disentuh oleh siapa pun.
Tapi sayangnya, di balik kalimat itu, kadang tersimpan banyak hati yang terluka.
Hati dari para peserta yang sudah latihan berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.
Hati dari para pembina yang sudah mengorbankan waktu, tenaga, bahkan uang.
Dan hati dari anak-anak Pramuka yang sebenarnya hanya ingin satu hal: dihargai dengan adil.
🏕️ Pramuka: Ajang Pendidikan, Bukan Arena Politik Nilai
Sebelum kita bahas panjang lebar, mari ingat dulu satu hal penting:
Pramuka itu bukan ajang cari piala, tapi ajang pendidikan.
Semua lomba Pramuka, dari tingkat sekolah sampai nasional, seharusnya menjadi bagian dari proses pembentukan karakter, bukan tempat adu kekuasaan antar panitia, atau ajang menunjukkan “siapa yang paling berpengaruh”.
Tapi sayangnya, kadang makna itu hilang di lapangan.
Yang seharusnya mendidik malah bikin kecewa.
Yang seharusnya membangun semangat malah membuat anak-anak merasa dipermainkan oleh orang dewasa.
Padahal, anak-anak ini datang dengan niat baik: ingin belajar disiplin, kerja sama, dan sportivitas.
Tapi mereka malah belajar sesuatu yang salah:
Bahwa di dunia nyata, yang benar belum tentu menang, dan yang salah bisa menang karena punya “koneksi”.
Dan itu… berbahaya sekali bagi pendidikan karakter bangsa.
🔍 Ketika Panitia dan Juri Tidak Satu Nada
Masalah paling sering muncul bukan karena peserta curang, tapi karena panitia dan juri tidak seirama.
- Di pertemuan teknis, panitia menjelaskan aturan dengan semangat: “Penilaian akan fokus pada kreativitas, kerapian, dan kekompakan.”
- Tapi saat lomba berlangsung, juri justru menilai hal-hal yang tidak pernah disebut di teknis.
- Akhirnya peserta bingung: “Lho, katanya gitu, kok yang menang malah regu yang melanggar aturan?” 😟
Hal seperti ini bukan sekadar “kesalahan kecil” — tapi bisa merusak kepercayaan generasi muda terhadap sistem lomba, bahkan terhadap nilai kejujuran itu sendiri.
Coba bayangkan perasaan anak-anak Pramuka yang:
- Sudah latihan siang malam sesuai buku pedoman,
- Sudah hafal aturan teknis luar kepala,
- Sudah menjaga kerapian, kekompakan, dan sopan santun,
…tapi akhirnya kalah hanya karena juri “punya penilaian sendiri”.
Bukankah itu sama saja seperti menyuruh mereka melanggar aturan untuk bisa menang?
⚖️ “Keputusan Juri Tidak Dapat Diganggu Gugat” Bukan Berarti Bebas dari Etika
Kita semua tahu, keputusan juri memang harus dihormati.
Tanpa itu, lomba bisa kacau. Tapi yang sering dilupakan adalah:
“Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat” bukan berarti keputusan juri tidak bisa dikritisi dengan sopan dan logis.
Dalam dunia pendidikan, semua hal bisa dibicarakan secara terbuka dan bermartabat — termasuk hasil lomba.
Karena tujuan lomba Pramuka bukan cuma menentukan pemenang, tapi menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kedewasaan.
Kalimat sakral itu seharusnya bukan tameng untuk menutupi ketidakprofesionalan.
Jangan jadikan “tidak bisa digugat” sebagai alasan untuk tidak mau belajar dari kesalahan.
Juri juga manusia. Bisa salah, bisa luput, bisa terburu-buru.
Tapi Pramuka sejati adalah mereka yang berani mengakui kekeliruan dan memperbaikinya dengan hati terbuka.
🧭 Saat Aturan Tak Lagi Jadi Kompas
Pramuka selalu diajarkan untuk hidup sesuai aturan dan kode kehormatan.
Kita hafal Tri Satya dan Dasa Dharma, bukan?
Salah satunya berbunyi:
“Patuh dan suka bermusyawarah.”
“Disiplin, berani, dan setia.”
“Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.”
Nah, kalau panitia dan juri tidak konsisten dengan aturan, berarti nilai-nilai itu tidak lagi dijalankan.
Apa artinya kita bicara tentang Dasa Dharma di upacara pembukaan kalau di lapangan kita melanggar sendiri semangatnya?
Kalau juri menilai dengan seenaknya, peserta belajar hal yang salah:
“Jadi juri itu enak, tinggal putuskan sesuai selera, dan semua orang harus terima.”
Padahal, seorang juri sejati seharusnya seperti kompas — memberi arah yang benar, bukan malah membuat peta yang membingungkan.
💬 Suara Kecil dari Regu yang Selalu Dirugikan
Banyak peserta, terutama dari sekolah kecil atau daerah, sering merasa “tidak dianggap.”
Mereka bilang:
“Kami sudah latihan keras, Kak. Tapi kayaknya yang menang selalu itu-itu aja.”
Apakah mereka salah kalau merasa begitu? Tidak.
Mereka hanya ingin diperlakukan adil.
Mereka tidak minta menang, mereka hanya minta dinilai sesuai usaha dan aturan.
Ketika juri tidak objektif, dampaknya bukan cuma soal piala.
Yang lebih parah adalah rasa percaya anak-anak pada nilai kejujuran jadi hancur.
Mereka bisa tumbuh dengan pikiran: “Ah, percuma jujur kalau akhirnya yang curang juga bisa menang.”
Dan kalau pikiran itu tertanam, bangsa ini kehilangan satu hal paling berharga: generasi yang percaya pada kebenaran.
🏕️ Lomba Itu Tentang Proses, Tapi Penilaian Tetap Harus Jujur
Memang benar, dalam Pramuka yang paling penting adalah proses, bukan hasil.
Tapi… apakah itu berarti hasil boleh ditentukan asal-asalan?
Tentu tidak.
Proses memang mendidik karakter, tapi penilaian yang adil mendidik kepercayaan.
Kalau panitia dan juri memberi hasil yang objektif, peserta akan belajar:
“Oh, ternyata kerja keras dan kejujuran memang berbuah hasil.”
Tapi kalau hasilnya tidak mencerminkan kenyataan, mereka belajar sebaliknya:
“Oh, ternyata hidup ini tentang siapa yang dekat dengan juri.”
Dan dari situ, benih-benih ketidakjujuran lahir.
Padahal Pramuka seharusnya jadi benteng terakhir dari semua itu — tempat di mana kebenaran dan keadilan tetap tegak, walau dunia di luar sana sudah banyak yang bengkok.
🌳 Jadi, Apa Solusinya?
Masalah ini bisa diperbaiki, asal semua pihak mau belajar dan mendengarkan.
Berikut beberapa langkah kecil tapi penting:
- Pertemuan Teknis Harus Jelas dan Tertulis.
Jangan cuma disampaikan lisan. Semua aturan, kriteria, dan sistem penilaian harus ditulis dan dibagikan ke peserta. - Juri Harus Satu Persepsi.
Sebelum lomba, pastikan semua juri paham kriteria yang sama.
Jangan sampai ada yang menilai “improvisasi bagus”, sementara yang lain menilai “improvisasi melanggar aturan”. - Transparansi Nilai.
Kalau bisa, hasil penilaian ditampilkan secara terbuka. Peserta berhak tahu poin mereka, supaya bisa belajar dan memperbaiki diri. - Evaluasi Terbuka Setelah Lomba.
Buka ruang diskusi santai antara panitia, juri, dan pembina. Bukan untuk menggugat, tapi untuk belajar bersama. - Pilih Juri yang Benar-Benar Paham Kepramukaan.
Jangan asal tunjuk orang “yang terkenal” tapi tidak paham konteks lomba. Lebih baik juri sederhana tapi adil, daripada juri hebat tapi berat sebelah.
❤️ Pramuka Itu Keluarga, Bukan Lawan
Di akhir lomba, semua peserta dan panitia harusnya bisa duduk bersama, tertawa, dan berkata:
“Kita sudah berjuang dengan cara yang jujur dan bermartabat.”
Karena tujuan Pramuka bukan menumbuhkan dendam, tapi persaudaraan.
Kalau lomba malah menimbulkan luka, berarti ada yang salah di dalam sistemnya — bukan pada anak-anaknya.
Mari kita kembalikan makna lomba Pramuka ke tempat semestinya:
sebagai alat pendidikan karakter, bukan alat pamer kekuasaan.
🏕️ Penutup: Ketika Dewasa, Jangan Lupa Dulu Kita Pernah Jadi Peserta
Bagi para juri dan panitia, izinkan tulisan ini menjadi pengingat kecil dari suara anak-anak di lapangan.
Mereka tidak menuntut banyak, mereka hanya ingin keadilan.
Mereka hanya ingin bisa percaya bahwa orang dewasa yang memakai baju coklat itu masih punya hati nurani.
Karena di setiap lomba Pramuka, bukan hanya piala yang dipertaruhkan — tapi juga kepercayaan generasi muda terhadap nilai kejujuran.
Dan kalau kita merusak kepercayaan itu, semua yel-yel dan semangat “Siap, Kak!” tak lagi berarti apa-apa.
Maka, mari kita buktikan bahwa:
Keputusan juri memang tak dapat diganggu gugat,
Tapi hati nurani selalu bisa digugah. ❤️





